CaFe RieKa : Berbagi Info, Ilmu, Tips & Trik, Toko Online, Jualan, dan Curahan Hati
Sebelumnya aku mohon maaf, jika ada yang tersinggung dengan tulisan ini . Aku tidak bermaksud untuk menyindir siapapun. Namun, aku hanya tak bisa menyembunyikan unek2ku dan menerjemahkannya dalam bentuk sebuah tulisan yang mungkin tak ada artinya ini.
Seringkali aku melihat fenomena dimana seseorang yang mungkin sedang ‘futur’ dianggap berguguran di jalan dakwah. Ini kisah nyata yang aku lihat di sekitarku dan sebagai pelajaran untuk diriku sendiri. Yah, ada seorang aktivis dakwah yang sebelumnya sangat menggebu2 dalam berdakwah dan menjadi mentor untuk adik2nya tiba2 terlihat bergandengan tangan dengan seorang perempuan yang belum halal baginya, atau seorang ketua keputrian yang aktif dikagumi para ikhwan tiba2 berubah 360 derajat dalam masalah penampilan, ada juga seorang wanita berjilbab tapi berperilaku tidak baik. Yah, kejadian2 seperti ini banyak kita jumpai di sekeliling kita. Tapi, pantaskah kita men’judge’ mereka seolah2 sebagai seseorang yang telah gugur di jalan dakwah? Sebagai seseorang yang telah di cabut hidayahnya oleh Allah? Sungguh, tidak !
Kita manusia tempatnya salah dan khilaf… Iman seseorang pun fluktuatif, kadang naik kadang turun. Kita pun belum tentu lebih baik karena Allah yang lebih mengetahui isi hati dan iman seseorang. Kita juga manusia. Mereka juga manusia. Jika saudara kita seperti itu, bukannya di judge, di musuhi, di jauhi, maupun dibicarakan…apalagi sampai di sidang….Tapi di dekati, di sayangi, di nasihati dan diingatkan dengan cara yg santun & baik secara pribadi tanpa membuatnya malu dengan orang lain. Bukankah perkataan yang baik terasa lebih menyejukkan ketimbang harus menelan kata2 yang pahit?
Mungkin, aku akan mencoba menceritakan kisah saya…(bukannya narsis ya..piss ah.
)
Masa-masa SMA, selain masa2 terindah merupakan masa2 pencarian jati diri (hehe…kayak ilang aja tuh diri, ampe dicari segala…. :-> ). Masa2 aku memulai mempelajari bagaimana menjadi muslimah yang baik. Intinya masa2 aku mulai BELAJAR !. Namun, itu juga masa2 aku ingin bebas !…. Saat itu aku ikut organisasi Rohis, aku senang karena mereka baik2
. Alhamdulillah I’m lucky to have them as my bestfriends. Tapi, karena aku jarang aktif, lebih suka sendiri dan bergaul dgn teman2ku yang masih awam serta jarang kumpul2 rapat, aku pernah mendapat teguran dari salah seorang senior. Saat itu di teras mesjid yang masih RAME, banyak orang lalu lalang untuk wudhu dan sholat, aku di tegur dengan kata2 kiasan : ” Domba yang sendiri akan lebih mudah untuk diterkam oleh serigala, ketimbang domba2 yang berkumpul”…Artinya?? Cerna sendiri lah yaww…hehe..Yang jelas itu adalah sindiran buatku karena aku jarang kumpul. Apa yang aku rasakan saat itu? Sedih, tentu sangat sedih…Aku ngga bisa ngomong saking sedihnya dan malu ditempat rame seperti itu ditegur. Segitukah anggapannya tentang aku? Aku memang jarang ikut acara mereka, jarang rapat, sering vakum kalo ada rapat, tapi itu juga bukan berarti aku “mudah diterkam serigala”. Kesannya aku ngga bisa jaga diri apa…! Mungkin aku dianggap ‘gugur’ di jalan dakwah…Sungguh aku sangat berterimakasih telah diperhatikan, tapi bukan seperti itu cara yang aku mau. Jujur, aku memang malas kalau ikut ekskul2 gitu, aku udah mau nonaktif eh malah di ajak2 mulu…Yah akunya ngga ngikut, malah di tegur. So,….:) Toh, aku ingin belajar menjadi muslimah yang baik bukan dari ekskul, tp dari ilmu melalui ta’lim2 yang aku ikuti. Jadi, tolong terima juga lah keputusanku untuk jarang2 kumpul kalo rapat, wong hatiku ngga ada disana, bukannya malah di tegur seolah2 aku ini sudah menjauh….
Dan, di akhir SMA menjelang kuliah ini pulalah, ALLAH menunjuki jalan kepadaku untuk mengenal manhaj Salaf. Alhamdulillah.. tapi saat itu aku benar2 baru mulai belajar, sangat awam sekali, aku belum terlalu mengenal bahwa dalam agama itu ternyata ada sunnah dan ada bid’ah. Aku belum tau kalo ternyata ibadah itu harus ittiba ( mengikuti contoh dr Nabi), aku belum tau kalo amalan yang tak ada contohnya itu tertolak, so sia2lah jika beramal tanpa ilmu….Yang aku tau, aku serius mau menimba ilmu, mengikuti ta’lim2, tanpa menyaring dari siapa. Karena saat itu aku baru belajar. Sehingga, di saat aku mengikuti kajian salaf, aku juga masih mengikuti halaqah dari murobbiku, dan aku bersama teman2 di awal kuliah mengadakan dauroh ke Darut Tauhid Bandung punya A* G*m (saat itu masih rame, sebelum beliau menikah lg..hehe). Sedihnya, temanku di kajian yang tau itu menganggap manhajku campur2, padahal bukannya campur2 , saat itu aku memang baru belajar Islam. Aku belum tau mana yg nyunnah, dan yang kurang nyunnah. Temanku itu nyebar2 ke teman yang lainnya kalo aku ikut si A si B, dll.. Sedih banget, di permalukan seperti itu.
Di tambah lagi, aku dapet SMS dr temanku yg ikhwan. Aku masih ingat banget isinya, kurang lebih :” Rik, u pindah manhaj ya? Smoga Allah melindungi kami dr fitnah hizbi..” Lah? Apalagi tuh hizbi? Aku ngga ngerti wong baru setahunan dr akhir2 tahun di SMA belajar Islam, baru tahu tentang Salaf dan sedang berusaha menjadi muslim yang lebih baik. Kok di anggap fitnah sih. Terus ada teman nelpon, katanya di kalangan teman2 ikhwan aku tuh udah kesebar ngga ikut ngaji salaf lg, udah pindah ke tarbiyah (pks)….Ya ALLAH, tanpa ada yang konfirmasi nyebar inform seperti itu? Apa kamsudnya? :hammer
Sedih banget saat itu. Aku bingung siapa ya biangnya/ sumber penyebarnya. Bukankah kita harus berbaik sangka terhadap sesama muslim sebelum konfirmasi?…Ini kok bisa berita berkembang tanpa konfirm,..Saat itu aku yang masih baru belajar agama ikut mengaji hari selasa di daerat Kramat dengan Ustadz Yazid ( dikasihtau info dr murabbi pertama x), juga liqo dengan mentor di kampus aku. Apa karena liqonya, berita itu jadi nyebar? Lho, aku yg liqo ngga ngerasa ada yang salah kok, baik2 aja liqonya, wong seringnya kita belajar buat praktikum bareng, curhat2an, curhat teman yang mau pake jilbab, bahas hal2 yang ringan aja kok, soalnya banyak teman2 yg masih awam bahkan belum berjilbab.Dan lagi situasi saat itu berbeda dengan saat ini, saat itu aku baru belajar dan mencari , sedangkan saat ini Insya Allah aku sudah yakin untuk mengikuti pemahaman Rasulullah dan para shahabatnya.
Intinya, aku juga manusia…Perlakukan aku secara manusiawi yang punya perasaan. Dan saat itu aku masih belajar, meski udah beberapa kali ikut kajian. Berdakwahlah dengan lemah lembut karena tiap orang itu tidak sama (berbeda sifat dan karakternya), apalagi dengan perempuan yg halus perasaan dan sensitivitasnya… Dengan cara yang santun, itu lebih diterima. Apalagi dengan orang yang baru belajar, sedang futur, atau bahkan dengan yang sama sekali belum mengenal agamanya sendiri. Ajaklah dengan cara yang ma’ruf (baik), bukan di jauhi, di judge, di musuhi atau dibicarakan di belakangnya…atau bahkan disikapi anarkisme, seperti ormas2 tertentu.
Berdakwahlah dengan lemah lembut. Jangan sampai kebenaran ini di jauhi hanya karena cara kita yang salah dalam menyampaikan…
Menyampaikan sesuatu kebenaran dengan hikmah, Nasehat yang baik dan lemah lembut kepada manusia, karena kekasaran, kekerasan dan sikap arogan dapat menjauhkan manusia dari dakwah. Dan para Nabi adalah orang yang paling kasih kepada makhluk dan yang paling mengetahui kebenaran. Sifat ini berpindah kepada Ahlu Sunnah wal Jama’ah pemilik manhaj yang benar. Sebagaimana yang disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam ucapannya : “Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang paling kasih kepada makhluk dan paling mengetahui kebenaran”.
Allah telah menyampaikan kepada Nabi-Nya. Nabi yang dicintai sahabat dan umatnya sampai mereka menyerahkan kepadanya jiwa, harta dan anak-anak mereka.
“Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah mebulatkan tekad, maka bertakwallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya” [Ali-Imran : 159]
Beliaulah yang memerintahkan untuk berlemah lembut dan melarang kekerasan, dalam sabdanya.
“Artinya : Kelemah lembutan tidaklah ada pada sesuatu, kecuali menghiasinya dan tidak hilang dari sesuatu kecuali merusaknya” [Hadits Riwayat Muslim]
Dan sabda beliau.
“Artinya : Siapa yang tidak memiliki kelembutan maka tidak mendapat kebaikan” [Hadits Riwayat Muslim]
Beliaupun berkata kepada salah seorang sahabatnya.
“Artinya : Sesungguhnya terdapat padamu dua sifat yang Allah dan RasulNya cintai; lemah lembut dan tidak tergesa-gesa” [Hadits Riwayat Muslim]
Demikian juga beliau memperingatkan kekerasan dalam sabdanya.
“Artinya : Sesungguhnya sejelek-jeleknya pengembala adalah yang kasar. Berhati-hatilah jangan sekali-kali kamu menjadi golongan mereka”.
“Artinya : Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang kalian mendo’akan kebaikan padanya dan mereka mendo’akan kebaikan kepadamu. Dan sejelek-jeleknya pemimpin adalah yang kalian melaknatnya dan mereka melaknat kalian”.
Seorang muslim (da’i) sepatutnya menjadi orang yang memiliki kasih sayang kepada obyek dakwahnya, berlemah lembut dan mengharapkan hidayah mereka dan tidak mengharapkan kesulitannya.
(beberapa point nasihat aku kutip dari ceramah Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr di Ma’had Al-Irsyad Surabaya, yg disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M )
Allohu a’lam
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Aug | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||
5 Responses for "Berdakwahlah dengan lembut…Karena Kami juga manusia :-)"
Sepakat mbak…
Kisah mbak di atas hampir mirip dengan pengalamanku. Syukron ya mbak sudah posting artikel ini.
Salam kenal…
wah… kenapa nggak timpalin aja ke mbak-mbak yang omongin kamu gini neng… “Ya ukhti… domba mah nggak ada yang cantik kayak ana…” pasti nggak jadi sakit hati waktu itu… insyaAllooh… he he
he he…
habis itu bilang jg mbak…”kalo dombanya secantik ana, mana ada serigala yg tega nerkam. jd y tenang aza Ukh..” ^^
yah mbak..mmg bgitulah fenomena dakwah d zaman skrg. msg2 merasa yg paling benar, jd klo melihat kawannya tidak satu majelis lg ato mulai “mendua” d majelis lain mk dianggapnya telah futur,gugur, dsb.
ana jg pernah merasakannya..saat itu jstru mbuat ana semakin ingin berpisah dg mereka. dan setiap peristiwa selalu ada hikmahnya, mgkin diantara hikmah tsb adl Alloh mengantarkan ana kpd manhaj yg haq dan mulia ini… Subhanalloh walhamdulillah…
Ana setuju mbak… untuk menyentuh hati maka harus dengan hati pula… dengan kasih sayang, kelembutan, dan sikap hikmah
Semoga kita diberi keistiqomahan hingga akhir hayat kita. Amin.
he he…
habis itu bilang jg mbak…\"kalo dombanya secantik ana, mana ada serigala yg tega nerkam. jd y tenang aza Ukh..\" ^^
yah mbak..mmg bgitulah fenomena dakwah d zaman skrg. msg2 merasa yg paling benar, jd klo melihat kawannya tidak satu majelis lg ato mulai \"mendua\" d majelis lain mk dianggapnya telah futur,gugur, dsb.
ana jg pernah merasakannya..saat itu jstru mbuat ana semakin ingin berpisah dg mereka. dan setiap peristiwa selalu ada hikmahnya, mgkin diantara hikmah tsb adl Alloh mengantarkan ana kpd manhaj yg haq dan mulia ini… Subhanalloh walhamdulillah…
Ana setuju mbak… untuk menyentuh hati maka harus dengan hati pula… dengan kasih sayang, kelembutan, dan sikap hikmah
Semoga kita diberi keistiqomahan hingga akhir hayat kita. Amin.
Barokallohufikum
Bener sekali mba..
Kalau difikir ya..
Allah menciptakan jutaaan kata…tapi kenapa pula kata yang dipilih adalah kata yang kasar seperti: bodoh, sesat, fasiq, kafir, dll… kenapa tidak memilih kata yang lebih bisa diterima. karena sekarang, ilmu tidak lagi seperti dulu. yang menyebar ke setiap pelosok hingga seorang budak mengetahui dimana Allah berada.
Sekarang???
Aina nahnu min akhlaqi salaf…???
Leave a reply