Archive for » 2010 «

Bismillah…


Bagi mereka yang suka makan makanan yang tahan lama seperti ikan asin, cumi asin, tahu, mie dan lain-lainnya mungkin tips ini bisa membantu:

Menurut Dra. Sukesi M.Si, seorang Dosen Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITS, untuk mengurangi kandungan formalin dalam makanan yang telah diawetkan dengan formalin, berikut ini ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kandungan formalin tersebut dalam makanan yang bersangkutan dengan boleh dibilang tanpa biaya tambahan apapun, hanya dengan bagaimana cara memperlakukan bahan makanan itu sebelum dikonsumsi.

Berikut ini adalah cuplikan percakapannya: “Saya tertarik untuk mencoba mencari bagaimana mengurangi kadar formalin dalam makanan semata karena ternyata penggunaan bahan pengawet yang di larang itu sudah sedemikian memasyarakat,” katanya.

Apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kadar formalin atau deformalinisasi?

Cukup mudah kata Dra. Kesi menjelaskan. Dalam siaran pers yang dikeluarkan ITS, ia menjelaskan untuk proses deformalinisasi ikan asin, dapat dilakukan dengan cara merendam ikan asin tersebut dalam tiga macam larutan, yakni: air, air garam dan air leri.

“Perendaman dalam air selama 60 menit mampu menurunkan kadar formalin sampai 61,25% dan dengan air leri mencapai 66,03% sedang pada air garam hingga 89,53%.

Ini artinya hanya dengan perlakuan dan pengetahuan yang baik sebelum dikonsumsi maka kadar formalin akan berkurang,” katanya.

Memang, tambahnya, kita tidak dapat menghilangkan hingga 100% kadar formalin yang ada. Tapi paling tidak dengan makin berkurangnya kadar formalin dalam bahan makanan itu, maka untuk mengkonsumsinya akan relatif lebih aman.

“Saya tidak mengatakan formalin itu aman digunakan sebagai pengawet, tapi mengurangi kadar formalin dalam bahan makanan yang mengandung formalin menjadi penting untuk diketahui dan dipahami,” katanya.

Bagaimana dengan tahu?


“Sedikitnya ada tiga cara penanganan untuk mengurangi kadar formalin, direndam dalam air biasa, dalam air panas, direbus dalam air mendidih, dikukus kemudian direbus dalam air mendidih dan diikuti dengan proses penggorengan,” katanya. Hasilnya, katanya melanjutkan, berbeda-beda, terbaik merebusnya dalam air mendidih kemudian di ikuiti dengan proses penggorengan.

“Sedang untuk mie proses deformalinisasi terbaik adalah dengan cara merendam dalam air panas selama 30 menit, dimana hasilnya dapat menghilangkan kadar formalin hingga mencapai 100%.”

Adapun pada ikan segar, dapat dilakukan dengan merendam dalam larutan cuka 5% selama 15 menit,” katanya.

——————————————————————————————————

Sumber :  Catatan Al Akh Aqil Azizi

http://www.facebook.com/notes/aqil-azizi/cara-mengurangi-kadar-formalin-pada-makanan/10150099895970530?notif_t=note_tag


http://mirianto.com/articles/cara-mengurangi-kadar-formalin-pada-makanan/

http://www.abuayaz.co.cc/2010/12/cara-mengurangi-kadar-formalin-pada.html#ixzz18dxFLop8

Langkah2 kecil kaki
Menyatu padu bersama tetesan hujan
Menyerbak aroma bumi nan pekat
Menyirami hijaunya

Aku suka hujan
Karena aku bisa melihat
pelangi dimatamu
Merajut jutaan rinai kata
dalam rintiknya
Tak sekedar mimpi sore hari


Hujan mendamaikan bumi
tiap tetes demi tetes yang merupakan rahmat
menemaniku dalam sepi
menunggu sang kekasih hati

Hujan menenangkan jiwa
mengingatkan diri pada romansa masa lalu
ketika kita menari ditengah hujan
dan kau menghangatkan tubuhku
dalam basah
dan guyuran air
terlukis indahnya pelangi

~Rika~

Category: Puisi  Tags: , ,  One Comment


Mendung
Dingin

Semendung jiwaku
Sedingin hatiku
Dan ketika awan bergemuruh & hujan perlahan turun
Air mata ini pun ikut turun laksana ingin menumpahkan isinya

Aku kehujanan
Menyamari air mataku
Aku terisak
Petir lebih terisak

Orang tahu langit yang menangis
Namun, tak ada yang menyadari bahwa aku juga menangis

~Jakarta, Hujan nan Damai~

Allohumma shoyyiban nafi`an

~Rieka~


Category: Puisi  Tags: , ,  Leave a Comment

Sungguh tak dapat kusembunyikan rasa iriku

Melihat para calon jama’ah haji mulai berbondong menuju Tanah Suci

Menuju Tanah Haram yang ku muliakan

Menuju Tanah kelahiran Nabi yang kucintai melebihi siapapun

Menuju Baitulloh yang selalu ku menghadap ketika sholat

Ingin ku melihatnya secara langsung, memandangnya, melakukan thawaf 7 kali dan mencium hajar aswad

Memuja-MU, menjadi tamu-MU di tempat ENGKAU turunkan petunjuk hidup yang lurus bagi manusia, Al-Islam

Sungguh ingin Yaa Alloh

Sungguh tak dapat kusembunyikan hasratku

Menundukkan seluruh anggota tubuhku, bersujud di Masjidil Haram yang pahalanya 100.ooo kali lipat

Bersujud di Masjid Nabawi yang pahalanya 1000 kali lipat

Berdoa di tempat-tempat mustajab

Berada dekat di tempat kelahiran Nabi kekasih-MU

Menunaikan rukun Islam yang ke-5

InsyaAlloh tidak ada yang tidak mungkin

Rinduku pada Baitullah

Selalu

nb: Tak ada yang tak mungkin InsyaAlloh.
Terinspirasi dari karya mba Asma Nadia “Emak Ingin Naik Haji” yang mana seorang nenek yang tulus ingin mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk berangkat haji. Di sisi lain, ada seorang politisi ingin naik haji hanya untuk menarik simpati dan seorang saudagar kaya yang sudah berulang kali naik haji.
Dan buku Ibu Pipiet Senja yang bisa naik haji dengan ONH plus dari seorang dermawan (tak mau disebutkan namanya) yang Qodarulloh ternyata sedang sakit parah. Semoga Alloh mengangkat penyakitnya.

Bukan hanya makanan yang bisa kadaluarsa, tapi ternyata helm juga bisa kadaluarsa. Bedanya kalau makanan bisa basi, helm bisa berubah struktur materianya jadi kurang sempurna melindungi kepala saat dipakai.

Lalu kapan sebenarnya helm menginjak masa kadaluarsa?

Pada helm-helm import seperti Arai, Shoei dan beberapa merek lainya pada beberapa tipe memang bisa dilihat perubahannya. Misal busanya mulai rontok atau warnanya yang sudah mulai menguning meski tidak dipakai.

Umur tiga sampai empat tahun itu sudah menjadi kesepakatan produsen helm internasional, bahkan di beberapa Negara menjual helm yang sudah kadaluarsa adalah tindak kriminal karena dianggap menambah resiko kecelakaan

Selama tiga tahun bila helm sudah dipakai tentunya keringat yang membasahi kepala, cuaca, debu dan kotoran diyakini bisa membuat helm tidak berada pada kondisi sempurna seperti saat pertama kali keluar dari pabrik.

Lalu bagaimana melihat caranya melihat umur helm?

Sebenarnya di bagian dalam batok helm ada embos tanggal produksi, tapi rasanya cukup sulit untuk dilihat. karena tertutup busa. Dan parahnya tidak banyak produsen helm yang mencantumkan tanggal produksi di tempat yang mudah dilihat. Salah satu helm lokal yang sudah menyantumkan tanggal produksinya adalah KYT.

Bisa dilihat di busa di bagian dalam helm, di situ tertera tahun produksinya, tinggal dihitung mundur saja untuk menentukan kapan kadaluarsanya. Langkah ini diakui tidak disukai para dealer dan pedagang ritel kami karena dianggap menyulitkan penjualan, tapi demi kualitas harus dilakukan. Para pedagang harusnya tidak perlu khawatir, karena harusnya mereka bisa me-retur helm2 kadaluarsa yg belum terjual.

sumber: kaskus.us

Huhuhu capek nomaden melulu…heheeee

Yah, gapapa sih khan jadi banyak kenalan juga pengalaman..iya toh?!  :)

InsyaAllah akhir Oktober ini, kami, aku dan suamiku akan pindah rumah lagi. Karena memang untuk rumah yang sekarang kami tinggali (di Perumahan Mutiara Gading Timur) masa sewanya hanya 1 tahun. Kami sudah mengontraknya sejak November 2009 lalu. Sebenarnya, sangat diperbolehkan sekali jika ingin memperpanjang kembali tiap tahunnya, bahkan pemiliknya menawari kami untuk memperpanjang. Namun kami memutuskan untuk tidak memperpanjangnya.

Jujur agak sedih juga sih harus pindah rumah, karena aku sudah lumayan betah tinggal di lingkungan daerah ini. Meskipun aku tak sering berada di rumah, tapi lingkungan terbilang cukup ramah bagi kami. Banyak pula aneka tempat makan-minum yang berjejeran di depan kompleks, sangat lengkap dengan berbagai jenis menu dan khas, pertokoan, supermarket, pasar tradisional. Juga taman bermain yang sejuk dan penuh pepohonan. Lokasi yang strategis dan dekat pula dengan tempat kerjaku. Transportasi pun mudah dan akses langsung ke pintu tol menuju Jakarta ataupun jika ingin ke Bandung atau Jawa via Karawang.

Namun, ada beberapa hal yang aku juga kurang sreg dan hal itu vital banget. Airnya sering mati dan kadang warnanya tidak jernih. Tak jarang, baru 3 hari nyuci bak mandi eh sudah keruh kembali. Sehingga aku dan suami memutuskan pindah.

Dan sebagai tips nantinya dalam memilih rumah, karena kami sudah banyak makan asam-garam dalam urusan mencari dan pindah2an rumah, maka pelajaran yang kami akan ambil insyaAllah:

1. Cek AIR (PAM atau sanyo), lancar atau tidak. Bersih atau tidak. Ada penampungnya atau tidak. Bagaimana baunya dan warnanya. Karena aku orangnya agak jijik-an, jadi kalo warna air agak keruh/cokelat gitu, suka ngga mau mandi. Khan boros kalo mandinya pake aqua galon melulu :(

2. Cek listrik. Berapa wattnya. Perhitungkan dengan alat elektrik yang kita bawa. Jangan sampai saat kita tinggali, listriknya menjadi tidak kuat.

3. Cek tiap sisi ruang, terutama kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Pastikan bersih dan sudah berubin semua. Tidak ada lubang buat masuk tikus,. Yah, intinya “bersih” lah, takut banyak sarang semut soalnya kalo rumah kurang terawat gitu. Terutama kamar mandi dan dapur itu aku perhatiin banget tiap cari rumah kontrakan.

4. Transportasi. Pastinya, ngga mungkin khan selalu diantar jemput suami. Sementara jalan kaki kalo yang jauh2 juga ga mungkin. Jadi harus ada transport yang jalannya tidak jauh dari tempat tinggal.

5. Banjir…Yahh, masalah klise. Sudah biasa jika Jakarta banjir, Bekasi banjir…..Tapi, at least jangan rumah kitanya. Sungguh, repot banget bersihin lumpurnya, belum kerugian material lainnya. Buat yang sudah terlanjur ya sudah, buat yang belum punya rumah sendiri, harus concern dengan hal ini. more…

Bismillah…

Hai…hai sobat CR

Annyeong haseyo ? :)

Pada jaga kesehatan ya teman, mengingat cuaca beberapa waktu ini sedang tak menentu, kadang sangat panas tiba2 turun hujan lebat seperti yang terjadi beberapa minggu ini. Perbedaan iklim yang mencolok ini tak ayal tak semua orang mampu beradaptasi. Banyak minum air putih, buah2an, asupan gizi dan tidur yang cukup :D

Mengenai cuaca, di daerahku tinggal (Bekasi) tiap sore ini hampir selalu hujan deras. Bahkan disertai badai dan angin yang kencang. Begitupun pada hari Kamis sore lalu. Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku pun terjebak dalam badai hujan ini. Semula aku meneduh dulu, karena sebelum turun hujan, awan hitam sudah menggelayuti langit Jakarta seperti malam hari, sangat gelap, padahal masih sekitar pukul 15.30. Lumayan lama sekali hujan turun sehingga ketika berhenti menimbulkan banyak genangan dan banjir dimana-mana, banjir tahunan yang entah tahun berapa akan teratasi :P more…

~ Catatan pribadiku, 11 April 2008, 09.14 am ~

Bagiku, menjalani hidup sama seperti berjuang…Bekerja, belajar, beribadah, mencari nafkah pasti banyak rintangannya..Dan kesulitan-kesulitan itulah yang menjadikan kita akan sangat bertambah bersyukur kepada-Nya ketika meraih kesuksesan kelak..Ibaratnya,,,tiap pohon yang kita tanam akan terpetik buahnya…

Seperti menikah…Menikah tak hanya bermodalkan “cinta” saja, tapi juga unsur kesiapan untuk berjuang…Berjuang dari titik nol…Layaknya kami yang menikah di masa-masa masih kuliah seperti ini..Kami berdua menikah bulan November 2007 di usia awal 20-an, kami berdua masih berstatus mahasiswa/i saat itu di Jakarta, belum selesai menjalaninya…Alhamdulillah suamiku sambil mencari maisyah (penghasilan) sehingga memutuskan kuliah kelas malam seusai mencari maisyah. (penghasilan). Dan Insya Alloh tak ada rasa menyesal atas keputusan yang kami ambil…Sebab, meskipun menikah setelah selesai kuliah dan sudah bekerja, menikah tetaplah suatu proses perjuangan… more…